BANDA ACEH, 26 Juli 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (SPs USK) melalui Program Studi Magister Pengelolaan Lingkungan (MPL) sukses menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Jejak Bencana, Jejak Kearifan: Membangun Ketangguhan Aceh melalui Perspektif Geologi, Arkeologi, Sejarah, dan Pengalaman Masyarakat” pada Minggu, 26 Juli 2026. Kegiatan akademik ini merupakan bagian dari Student Exchange Inbound Program yang melibatkan mahasiswa Universitas Syiah Kuala dan Universiti Malaya (UM), khususnya delegasi Kolej Kediaman Kinabalu.
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P., didampingi oleh Koordinator Program Studi Magister Pengelolaan Lingkungan sekaligus penyelenggara kegiatan, Prof. Dr. Ir. Ichwana, S.T., M.P. Turut hadir mewakili Kolej Kediaman Kinabalu Universiti Malaya, Muhammad Rizdwan Mohd Rashid, beserta jajaran mahasiswa peserta program pertukaran dari Universiti Malaya.
Dalam sambutannya, Prof. Muslim Akmal menyampaikan bahwa kolaborasi internasional seperti ini menjadi sarana penting dalam memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, pengalaman akademik, serta memperluas wawasan mahasiswa terkait isu-isu kebencanaan dan keberlanjutan lingkungan. Beliau menegaskan bahwa Aceh memiliki pengalaman berharga dalam menghadapi berbagai bencana yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat global.
Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber utama. Pemateri pertama, Prof. Dr. Nazli, S.Si., M.Si., memaparkan materi mengenai ketangguhan bencana Aceh dari perspektif geologi dan sejarah kebencanaan. Ia menjelaskan bagaimana rekaman geologi, bukti arkeologis, serta pengalaman masyarakat selama berabad-abad menunjukkan bahwa Aceh memiliki kapasitas adaptasi dan pembelajaran yang kuat terhadap berbagai ancaman bencana, termasuk gempa bumi dan tsunami. Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Ahmad Nubli Gadeng, S.Pd., M.Pd., mengangkat tema kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Ia menekankan bahwa berbagai nilai budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun menjadi modal utama dalam memperkuat mitigasi bencana berbasis masyarakat.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan hadirnya dua penanggap dari Universiti Malaya, yaitu Prof. Gs. Dr. Rosmadi bin Fouzi dan Assoc. Prof. Dr. Mariney Mohd Yusoff. Keduanya memberikan pandangan akademik yang memperkaya pembahasan, khususnya terkait pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, pengalaman masyarakat, serta kolaborasi lintas negara dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana. Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara dari aktifnya mahasiswa USK dan UM dalam berdiskusi mengenai pengelolaan risiko hingga nilai budaya pendukung pemulihan bencana.
Sebagai wujud penguatan kerja sama antar-institusi, pada kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan dokumen Implementation of Agreement (IA) antara Program Studi Magister Pengelolaan Lingkungan USK dengan Kolej Kediaman Kinabalu serta Departemen Geografi Fakulti Sastera dan Sains Sosial Universiti Malaya. Agenda dilanjutkan dengan pertukaran cinderamata antara Sekolah Pascasarjana USK dan Kolej Kediaman Kinabalu UM sebagai bentuk apresiasi dan komitmen untuk terus mempererat hubungan akademik di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman ilmiah mengenai kebencanaan, tetapi juga diajak untuk melihat bahwa di balik setiap peristiwa bencana terdapat pelajaran, nilai, dan kearifan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Semangat kolaborasi yang terbangun menjadi pengingat bahwa dalam setiap bencana tersimpan makna, dan dalam setiap kearifan tersimpan harapan untuk membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.







No responses yet