BANDA ACEH, 24 Juli 2026 — Rangkaian International Service-Learning Program yang melibatkan Kolej Kediaman Kinabalu Universiti Malaya (UM) dan Universitas Syiah Kuala (USK) turut diwarnai dengan kegiatan pertukaran budaya serta kunjungan edukasi sejarah kebencanaan di Aceh. Selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di Banda Aceh dan sekitarnya, para mahasiswa internasional didampingi oleh Duta USK yang bertindak sebagai pemandu serta jembatan komunikasi antarbudaya.

Dalam agenda edukasi kebencanaan, sebanyak 33 mahasiswa Kolej Kediaman Kinabalu UM diajak mengunjungi beberapa situs bersejarah bencana Tsunami 2004, seperti Museum Tsunami Aceh, Monumen PLTD Apung, dan kawasan pesisir Pantai Lampuuk. Para mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu—meliputi Sastra dan Sejarah, Al-Qur’an dan Hadis, Sastra Inggris, Ilmu Alam/Lingkungan, Pendidikan Islam, Geografi, Syariah dan Hukum, Sains Kimia, Matematika, Ilmu Komputer, serta Antropologi dan Sosiologi—dapat mendalami serta merasakan langsung rekam jejak peristiwa tsunami melalui penayangan dokumenter visual hingga observasi lapangan secara langsung.

Selain pemahaman kebencanaan, nilai-nilai lokal Aceh seperti filosofi “Peumulia jamee, adat geutanyoe” (memuliakan tamu adalah adat kami) turut menjadi ruh dari kegiatan Pertukaran Budaya Indonesia–Malaysia yang diselenggarakan di Mini Theater Sekolah Pascasarjana USK. Acara ini dibuka secara resmi oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P. Sejalan dengan peribahasa Melayu “Tak kenal maka tak cinta”, agenda ini dikemas lebih dari sekadar pentas seni, melainkan sebagai ruang dialog untuk merayakan akar budaya Melayu yang berkelindan serta mempererat hubungan dua bangsa serumpun.

Penasihat Kegiatan Kolej Kediaman Kinabalu UM, Encik Muhammad Ridzwan, menuturkan bahwa melalui sesi pertukaran budaya ini, mahasiswa USK dan Universiti Malaya saling mempromosikan kekayaan daerah masing-masing melalui tarian tradisional, musik daerah, busana adat, permainan rakyat, hingga kisah nilai-nilai kearifan lokal. Timbalan Dekan Ijazah Tinggi Fakulti Sastera dan Sains Sosial UM, Prof. Rosmadi, menyambut positif agenda ini dan menggarisbawahi bahwa di balik keberagaman tradisi yang ditunjukkan, kedua negara memiliki banyak titik temu keberlanjutan yang berakar dari warisan budaya Melayu.

Sementara itu, Koordinator Program Studi Magister Pengelolaan Lingkungan USK, Prof. Dr. Ir. Ichwana, S.T., M.P., menjelaskan bahwa rangkaian interaksi lintas budaya ini dirancang untuk membangun persahabatan, memperkuat rasa saling menghargai, serta memperluas perspektif internasional para peserta. Kehadiran Duta USK dalam mendampingi delegasi UM turut memperlancar proses akulturasi dan keakraban selama kegiatan. Melalui seluruh dialog dan pengalaman bersama yang terbangun, keberagaman diharapkan tidak menjadi sekat pemisah, melainkan jembatan yang menyatukan kedua perguruan tinggi dalam semangat persaudaraan dan kerja sama akademis yang berkelanjutan di masa depan.

baca juga di : https://tribunaceh6.wordpress.com/2026/08/03/mahasiswa-universiti-malaya-dan-usk-perkuat-persaudaraan-serumpun-melalui-pertukaran-budaya-dan-edukasi-kebencanaan-di-aceh/

Categories:

Tags:

Comments are closed